Perincian Pembagian Harta Warisan Sesuai Hukum Islam

 

 

Pembagian harta waris adalah perkara mudah, namun sulit untuk diterapkan. Pertikaian mengenai harta waris sudah tidak asing didengar sejak dahulu kala. Kali ini, akan dibahas mengenai hukum harta waris menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) dan hukum waris agama Islam, yang diharapkan dapat memberi penjelasan mengenai cara pembagian harta waris yang adil baik menurut KUH Perdata dan agama.

 

Di Indonesia, masalah harta waris diatur dalam UU no.7 tahun 1989. Terdapat 5 Bab dalam UU no.7 tahun 1989 yang masing-masing, mengatur masalah harta waris. Dalam Bab III pasal 49, dijelaskan bahwa Pengadilan Agama memiliki hak dalam mengatur masalah harta waris yang meliputi: Menentukan  ahli waris sah, harta yang akan diwariskan, menentukan bagian bagi ahli waris, serta melaksanakan pembagian harta waris.

 

Dapat dikatakan bahwa Agama merupakan dasar penting dalam masalah pewarisan harta di Indonesia, sebagai dasar pembuatan undang-undang yang mengatur masalah harta waris. Selanjutnya akan dijelaskan dengan rinci mengenai pembagian harta waris dalam hukum agama Islam.

 

Agama Islam mengatur dengan ketat masalah pembagian harta waris. Terdapat 4 istilah penting dalam pembagian harta waris, yaitu mawaris sebagai harta waris yang ditinggalkan, muwaris selaku orang yang meninggalkan harta waris, waris selaku ahli warisan, serta Faraidh selaku orang yang mempelajari hukum pembagian harta waris.

 

Sebelum menghitung jumlah pembagian harta waris, perlu dilakukan pemotongan dari sejumlah biaya untuk perawatan muwaris sewaktu sakit, pengurusan mayat, zakat, hutang, dan wasiat apabila ada. Apabila telah diselesaikan semuanya, sisanya akan diperhitungkan kembali untuk diberikan kepada ahli waris.

 

Dalam Hukum Islam mengenal kelompok ahli waris berdasarkan hubungan darah dan hubungan perkawinan.

 

  1. Menurut hubungan darah:
  • Golongan laki-laki terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek
  • Golongan perempuan terdiri dari: ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek

 

  1. Menurut hubungan perkawinan, yaitu suami atau istri yang ditinggalkan.

Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapatkan warisan hanya anak, ayah, ibu atau suami/istri yang ditinggalkan. Sedangkan untuk anak angkat, mereka tidak memiliki hak atas harta waris dari keluarga angkat mereka. Anak angkat namun tetap memiliki haknya atas harta yang diberikan muwaris selagi hidup, contohnya mobil yang diberikan oleh ayah angkat saat masih hidup.

 

Berikut ini merupakan perincian pembagian harta waris berdasarkan Hukum waris Islam:

  1. Setengah bagian (1/2): Anak perempuan tunggal, cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki, saudara perempuan kandung, saudara perempuan sebapak (jika tidak ada yang sekandung), dan suami yang apabila istrinya meninggal tanpa anak.
  2. Seperempat bagian (1/4): Suami yang memiliki anak dari istri, dan istri yang suaminya meninggal tanpa memiliki anak.
  3. Seperdelapan bagian (1/8): Istri yang memiliki anak dari suami.
  4. Dua pertiga bagian (2/3): dua anak perempuan atau lebih tanpa ada anak laki-laki, dua cucu perempuan atau lebih dari anak laki-laki apabila tidak memiliki anak perempuan, dua saudara perempuan kandung/lebih, dan dua saudara perempuan sebapak/lebih apabila tidak memiliki saudara sekandung.
  5. Sepertiga bagian (1/3): Ibu apabila muwaris tidak memiliki anak atau saudara perempuan, dan dua orang saudara perempuan/lebih apabila muwaris tidak memiliki anak atau orang tua.
  6. Seperenam bagian (1/6): Ibu apabila Bersama anak/cucu laki-laki, ayah apabila Bersama anak/cucu, kakek apabila Bersama anak/cucu sedangkan ayah tidak ada, nenek apabila tidak ada ibu, dan juga saudara seibu apabila tidak ada anak.

 

Merujuk pada KUH Perdata, perincian pembagian harta waris adalah sebagai berikut:

  1. Anak-anak dan suami atau istri menerima bagian yang sama besarnya antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan juga tidak ada perbedaan antara yang lahir pertama kali dengan yang lahir berikutnya. (Pasal 852)
  2. Apabila pewaris tidak meninggalkan keturunan maupun suami atau istri, sedangkan bapak dan ibunya masih hidup, maka bapak dan ibu akan mendapat bagian 1/3 dari warisan, sedangkan saudara laki-laki dan saudara perempuan 1/3 bagian. (Pasal 854 sampai dengan Pasal 856)
  3. Apabila pewaris tidak meninggalkan keturunan, suami atau istri, sedangkan bapak atau ibu telah meninggal lebih dahulu, maka yang berhak menerima seluruh harta warisan dari pewaris adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan. (Pasal 855)

Leave a Comment